Melawi (Kemenag Melawi) — Kabar membanggakan datang dari dunia sastra dan pendidikan Kalimantan Barat. Fithriani, seorang guru sekaligus pegiat literasi dari Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Melawi, berhasil menembus kategori 100 besar penulis pantun tingkat ASEAN melalui partisipasinya dalam buku antologi Kumpulan Pantun Serumpun ASEAN.
Buku Kumpulan Pantun Serumpun ASEAN merupakan proyek kolaborasi sastra lintas negara yang diinisiasi oleh komunitas pegiat pantun di kawasan Asia Tenggara. Antologi ini menghimpun karya-karya terbaik dari berbagai kalangan, mulai dari guru, siswa, sastrawan, hingga masyarakat umum yang mencintai pantun sebagai warisan budaya Melayu.
Proses seleksi dilakukan secara ketat oleh tim kurator dari lima negara, yakni Indonesia, Malaysia, Brunei Darussalam, Singapura, dan Thailand. Dari ribuan naskah yang masuk, hanya 250 karya yang dinyatakan lolos kurasi untuk dibukukan. Dari jumlah tersebut, 100 penulis ditetapkan sebagai yang terbaik dan masuk kategori “100 Besar Pantun Serumpun ASEAN”.
Fithriani berhasil menempatkan namanya dalam jajaran bergengsi tersebut. Pantun karyanya dinilai memiliki kekuatan rima, sarat makna, serta mampu mengangkat nilai-nilai kearifan lokal yang relevan dengan semangat kebersamaan ASEAN. Capaian ini sekaligus mengharumkan nama daerah di kancah sastra regional.
Dalam salah satu pantunnya yang lolos kurasi, Fithriani menyampaikan pesan tentang pentingnya menjaga persaudaraan serumpun meski berbeda negara. Pilihan diksi yang sederhana namun mendalam menjadi salah satu alasan dewan kurator memberikan penilaian tinggi terhadap karyanya.
Kepala MAN Melawi, Sugeng menyambut baik prestasi tersebut dan memberikan apresiasi atas capaian Wakil Kepala Bidang Kesiswaan itu. Menurutnya, keberhasilan Fithriani membuktikan bahwa guru tidak hanya berperan sebagai pendidik di kelas, tetapi juga mampu berkarya dan menjadi teladan dalam literasi bagi siswa.
Buku ini rencananya akan diluncurkan secara serentak di empat negara pada Mei 2026 mendatang. Selain versi cetak, buku tersebut juga akan tersedia dalam format digital agar dapat diakses lebih luas oleh pelajar dan masyarakat di kawasan ASEAN. Peluncuran buku akan dirangkaikan dengan kegiatan “Festival Pantun Serumpun” yang meliputi pembacaan pantun, diskusi sastra, serta workshop penulisan pantun bagi guru dan siswa.
Fithriani, yang akrab disapa Fitri, dijadwalkan menjadi salah satu narasumber dalam sesi workshop tersebut. Rekan sejawatnya mengaku bangga dan termotivasi atas pencapaian tersebut. “Beliau aktif menulis dan sering mengajak kami mengikuti lomba. Kini terbukti bahwa konsistensi membuahkan hasil,” ujar salah satu guru di MAN Melawi.
Antusiasme juga datang dari para siswa. Beberapa di antaranya mulai mencoba menulis pantun setelah mengetahui prestasi gurunya. Kegiatan ekstrakurikuler literasi di sekolah pun semakin diminati.
Fithriani menyampaikan bahwa menulis pantun merupakan salah satu cara untuk merawat bahasa dan budaya. “Pantun itu singkat, tetapi mampu menyampaikan nasihat yang panjang,” ujarnya.
Ia berharap prestasi ini dapat menjadi pemantik lahirnya lebih banyak penulis muda dari sekolah-sekolah yang berani mengirimkan karya hingga tingkat nasional maupun regional. Buku antologi ini tidak hanya menjadi dokumentasi karya, tetapi juga sarana diplomasi budaya. Melalui pantun, nilai gotong royong, toleransi, dan persaudaraan serumpun kembali dihidupkan dalam kemasan sastra yang mudah diterima lintas generasi.
Prestasi yang diraih Fithriani diharapkan menjadi suntikan semangat bagi guru dan siswa di seluruh Indonesia. Bahwa dari ruang kelas dan meja belajar, karya dapat melampaui batas negara dan membawa kebanggaan bagi bangsa. (Okta)
