Penyuluh Agama Islam Melawi Terbitkan Buku “Sang Bintang”

Melawi (Kemenag Kalbar) Di sela kesibukannya sebagai Penyuluh Agama Islam di KUA Kecamatan Nanga Pinoh, ada satu kebiasaan yang tidak pernah ditinggalkan Ali Anshori. Yakni menulis. Bukan tulisan panjang penuh teori, bukan pula makalah rumit. Ali lebih suka menuliskan kisah-kisah sederhana tapi hangat, tentang orang-orang di sekelilingnya. Kisah yang kadang tak pernah masuk surat kabar, namun menyimpan nilai hidup yang dalam.

Dari kebiasaan kecil itulah lahir sebuah buku berjudul “Sang Bintang”, kumpulan cerita tokoh-tokoh inspiratif yang ditemui Ali dalam perjalanan hidupnya. Para tokoh itu bukan nama besar, bukan selebritas, tetapi orang-orang biasa yang punya cahaya luar biasa.

“Setiap orang adalah bintang. Tugas kita hanya melihat cahayanya,” ujar Ali suatu ketika.

Awalnya, ia hanya menulis di blog pribadi tempat sederhana untuk menyimpan kenangan. Namun semakin lama, cerita-cerita itu tumbuh, saling terhubung, dan punya napas yang sama. Dari situlah muncul inisiatif untuk membukukannya. “Saya ingin kisah-kisah ini tidak hilang bersama waktu. Biarlah ia menjadi kenang-kenangan, untuk saya dan untuk siapa saja yang membaca,” katanya.

Buku “Sang Bintang” kemudian dicetak oleh Pustaka Aloy Pontianak. Tidak muluk-muluk, hanya sekitar 100 eksemplar. Tapi justru itulah yang mengejutkan Ali, karena seluruh buku tersebut habis terjual. Bukan karena promosi besar-besaran, tapi karena pembaca merasa dekat dengan kisah-kisah yang ia tulis: jujur, hangat, dan apa adanya.

Menulis ternyata telah menjadi bagian dari perjalanan panjang hidup Ali Anshori. Lahir di Desa Sambora, Kecamatan Toho, Kabupaten Mempawah, pada 12 Juli 1982, ia adalah anak keempat dari enam bersaudara. Kini ia hidup bersama istri dan tiga anaknya, menjalankan pengabdian sebagai penyuluh sambil terus menjaga hobinya: mendokumentasikan perjalanan hidup melalui kata-kata.

Dalam setiap kisah yang ia tulis, terselip harapan agar semakin banyak orang terutama rekan sesama penyuluh tidak ragu menulis. “Buku bukan soal ketenaran, tapi soal mewariskan cerita,” ucapnya dengan senyum tenang.

“Sang Bintang” menjadi bukti sederhana bahwa tulisan yang lahir dari ketulusan akan menemukan pembacanya sendiri. Dan siapa tahu, dari Melawi akan lahir lebih banyak lagi penulis yang membuat cahaya kecil itu semakin terang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *