Guru Bahasa Arab se-Melawi Ikuti Pelatihan Penyusunan Modul Ajar Berbasis Kurikulum Berbasis Cinta

Melawi (Kemenag Kalbar) – Guru-guru Bahasa Arab dari jenjang MI, MTsN, hingga MAN se-Kabupaten Melawi mengikuti pelatihan penyusunan modul ajar berbasis Kurikulum Berbasis Cinta (KBC). Kegiatan ini merupakan bagian dari Pengabdian Kepada Masyarakat Berbasis Karya Ilmiah (PKM-KI) yang digagas oleh Abdul Syukur, guru MIN 2 Melawi yang juga mahasiswa Pascasarjana Program Studi Magister Pendidikan Bahasa Arab IAIN Pontianak. Pelatihan berlangsung di MIN 2 Melawi dengan melibatkan para pendidik dari berbagai madrasah.

Kegiatan menghadirkan Nelly Mujahidah sebagai dosen pembimbing sekaligus narasumber utama. Dalam pemaparannya, ia menjelaskan bahwa Kurikulum Berbasis Cinta adalah pendekatan pendidikan yang menempatkan cinta sebagai fondasi pembentukan karakter, sikap, dan cara pandang peserta didik. Konsep ini mendorong terciptanya suasana belajar yang empatik, inspiratif, dan berorientasi pada kebajikan.

Nelly memaparkan bahwa KBC tersusun dalam lima topik utama yang dikelompokkan menjadi tiga bagian besar atau Panca Cinta.

Pertama, Sumber Cinta yang mencakup cinta kepada Allah dan cinta kepada Rasul. Peserta didik diarahkan untuk memahami sifat-sifat Allah yang penuh kasih serta meneladani akhlak Rasulullah saw. dalam kehidupan sehari-hari.

Kedua, Tanda Cinta yang meliputi cinta ilmu dan cinta lingkungan. Alam dipandang sebagai pancaran cinta Allah, sehingga memelihara lingkungan dan mencintai ilmu merupakan bentuk penghayatan terhadap kehadiran-Nya.

Ketiga, Tali Cinta, yakni cinta kepada diri sendiri, sesama manusia, dan tanah air. Cinta diri diwujudkan melalui kebiasaan positif, cinta sesama melalui kepedulian sosial, dan cinta tanah air melalui kontribusi serta kepatuhan terhadap aturan yang berlaku.

Penjelasan mengenai Panca Cinta tersebut kemudian dikaitkan dengan teori kurikulum modern yang menempatkan kurikulum sebagai rencana pembelajaran komprehensif, meliputi pengetahuan, pengalaman, dan pembentukan karakter. Kurikulum modern menuntut fleksibilitas, integrasi, serta kesesuaian dengan perkembangan peserta didik. KBC diposisikan dalam seluruh dimensi kurikulum, mulai dari ide, dokumen tertulis, implementasi, hingga hasil pembelajaran, sehingga nilai cinta tidak hanya hadir dalam konsep, tetapi juga dalam praktik.

Kepala MIN 2 Melawi, Siri Nurlaila, memberikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan ini. Ia menyampaikan bahwa penerapan KBC sangat relevan dengan kebutuhan pendidikan modern yang menekankan kasih sayang, keteladanan, dan pembentukan karakter. Ia juga menyatakan dukungan penuh kepada guru-guru yang terus mengembangkan kompetensi melalui studi lanjut maupun pelatihan profesional.

Dalam penutupannya, Nelly mengingatkan pentingnya adaptasi guru terhadap perubahan regulasi dan perkembangan teknologi. “Guru harus terus meng-upgrade kompetensinya. Pendidikan harus bergerak sejalan dengan perubahan zaman, namun nilai cinta harus tetap menjadi fondasinya,” ungkapnya.

Pelatihan berlangsung dinamis melalui penyampaian teori, diskusi interaktif, serta praktik penyusunan modul ajar berbasis KBC. Para peserta tampak antusias karena materi yang disajikan dinilai relevan dan mudah diterapkan dalam penguatan pembelajaran Bahasa Arab.

Dengan terlaksananya kegiatan ini, guru-guru Bahasa Arab se-Kabupaten Melawi diharapkan semakin siap menerapkan Kurikulum Berbasis Cinta dalam proses belajar mengajar, sehingga pembelajaran di madrasah menjadi lebih humanis, inspiratif, dan bermakna bagi peserta didik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *