57 Siswa Kelas XII MAN Melawi Terbitkan Buku Feature Human Interest, Sertifikat Diserahkan Lansung Oleh Kepala Kemenag Melawi

Melawi (Kemenag Melawi) — Sebanyak 57 siswa kelas XII MAN Melawi berhasil menerbitkan buku antologi feature human interest yang berisi kisah pengalaman pribadi mereka. Buku setebal 210 halaman tersebut merupakan hasil karya tulis yang dibimbing langsung oleh guru Bahasa Indonesia, Misnawati.

Proses penulisan dimulai sejak September 2025 sebagai bagian dari penguatan profil pelajar Pancasila dan budaya literasi madrasah. Setiap siswa menggali cerita paling berkesan dalam hidupnya, mulai dari perjuangan belajar, kisah keluarga, hingga pengalaman spiritual selama menempuh pendidikan di madrasah.

Misnawati menjelaskan bahwa genre feature human interest dipilih agar siswa mampu menulis dengan empati dan kejujuran.

“Anak-anak dilatih memotret sisi kemanusiaan dari pengalaman mereka sendiri. Tidak hanya baik secara struktur penulisan, tetapi juga mampu menyentuh pembaca,” ujarnya, Sabtu, 10 Mei 2026.

Tahap kurasi naskah dilakukan selama tiga bulan. Para siswa saling menyunting karya teman sekelas sebelum dilakukan penyuntingan akhir oleh tim guru bahasa. Sementara itu, desain tata letak dan sampul buku dikerjakan oleh tim jurnalistik MAN Melawi dengan dominasi warna hijau dan ilustrasi siluet gerbang madrasah.

Kepala MAN Melawi, Sugeng, memberikan dukungan penuh terhadap proyek literasi tersebut sejak awal pelaksanaan.

“Karya ini menjadi bukti bahwa siswa madrasah mampu menghasilkan tulisan yang berkualitas dan inspiratif,” katanya.

Buku berjudul Cerita dari Serambi Madrasah: 57 Jejak Langkah Anak Melawi tersebut resmi diluncurkan bertepatan dengan kegiatan Perpisahan dan Pelepasan Siswa Kelas XII MAN Melawi Tahun 2026 yang digelar di Gedung Serbaguna MAN Melawi pada Rabu, 14 Mei 2026.

Acara tersebut dihadiri Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Melawi, Anuar Akhmad, komite madrasah, orang tua siswa, serta tamu undangan dari SMA dan MA se-Kecamatan Nanga Pinoh. Suasana haru terasa ketika beberapa cuplikan cerita dibacakan oleh perwakilan penulis di hadapan para tamu undangan.

Dalam sambutannya, Anuar Akhmad mengapresiasi terobosan literasi yang dilakukan MAN Melawi. Menurutnya, penerbitan buku antologi tersebut sejalan dengan program prioritas Kementerian Agama dalam penguatan literasi dan moderasi beragama.

“Menulis adalah bagian dari dakwah. Kalian sudah menyampaikan pesan kehidupan melalui tulisan dan pengalaman yang dibagikan,” ujarnya.

Puncak acara ditandai dengan penyerahan buku secara simbolis oleh Sugeng kepada Kepala Kemenag Melawi. Selanjutnya, Anuar Akhmad menyerahkan sertifikat penulis dan piagam penghargaan literasi kepada 57 siswa penulis buku.

Satu per satu siswa maju ke atas panggung menerima penghargaan yang disambut tepuk tangan meriah dari para hadirin.

Misnawati menyebut, berbagai kisah yang ditulis siswa memiliki latar belakang yang beragam dan penuh makna.

“Ada siswa yang sepulang sekolah tetap berjualan untuk membantu orang tua. Ada juga yang menulis tentang perjuangan hidup dan pengalaman spiritualnya. Keragaman cerita itulah yang menjadi kekuatan buku ini,” tuturnya haru.

Salah satu siswa penulis, Theo, mengaku bangga karena tulisannya dapat dibukukan dan menjadi kenangan selama belajar di MAN Melawi.

“Buku ini menjadi kenangan terbaik kami selama belajar di madrasah,” ungkapnya usai menerima sertifikat.

Sugeng menambahkan bahwa sebanyak 200 eksemplar buku telah dicetak dan versi digitalnya juga diunggah melalui media resmi MAN Melawi agar dapat diakses masyarakat luas.

Sementara itu, Sekretaris Komite MAN Melawi, Syamsudin, menyampaikan apresiasi kepada para guru pembimbing dan berharap program penulisan buku dapat menjadi tradisi tahunan bagi siswa kelas XII.

“Kami sangat mendukung program seperti ini, baik secara moril maupun dukungan lainnya, karena sangat positif untuk pengembangan literasi siswa,” katanya.

Melalui penerbitan buku feature human interest tersebut, MAN Melawi menegaskan komitmennya dalam membangun budaya literasi di lingkungan madrasah.

“Mereka lulus bukan hanya membawa ijazah, tetapi juga meninggalkan karya. Semoga ini menjadi inspirasi bagi adik-adik kelas untuk terus menulis dan berkarya,” tutup Sugeng. (Okta)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *