Etika Berbeda Pandangan dalam Islam: Kemenag Melawi Angkat Isu Moderasi dalam Podcast SINIMAN

Melawi (Kemenag Kalbar) — Podcast SINIMAN (Diskusi Informasi Kinerja dan Beriman) kembali hadir sebagai ruang edukasi publik yang menggabungkan nilai keislaman dan profesionalitas ASN. Pada episode terbaru, SINIMAN mengangkat tema “Etika Berbeda Pandangan dalam Islam”, sebuah topik yang dirasa semakin relevan di tengah dinamika sosial, kolaborasi kerja, serta kehidupan bermasyarakat saat ini.

Episode ini dipandu oleh Ali Anshori selaku Host. Ia membuka podcast dengan menegaskan bahwa perbedaan pendapat adalah bagian tak terpisahkan dari kehidupan. Baik dalam lingkungan kerja, keluarga, maupun masyarakat, setiap orang membawa perspektifnya masing-masing. Karena itu, adab dan kebijaksanaan dalam menyikapi perbedaan menjadi kunci untuk menjaga harmoni.

Pada kesempatan ini, hadir sebagai narasumber Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Melawi, H. Muhammad Desi Asiska. Kehadirannya memberikan sudut pandang yang kaya mengenai bagaimana Islam memandang perbedaan serta etika dalam berdiskusi.

Dalam dialognya, H. Muhammad Desi Asiska menjelaskan bahwa perbedaan merupakan sunnatullah adalah sebuah ketetapan alamiah yang menunjukkan keberagaman cara berpikir manusia. Namun demikian, akhlak dalam menyikapi perbedaan merupakan kewajiban moral bagi setiap muslim. Ia menegaskan bahwa para sahabat Nabi hingga ulama besar pun sering berbeda pendapat, tetapi tetap menjaga adab serta saling menghormati.

Lebih jauh, beliau menyampaikan tiga prinsip dasar etika ketika berbeda pandangan: menjaga akhlak, menghormati lawan bicara, dan tidak merasa diri paling benar. Menurutnya, sikap merasa paling benar kerap menjadi sumber perpecahan, sehingga diperlukan kerendahan hati untuk mendengar sebelum menyampaikan pendapat.

Narasumber juga memberikan gambaran bagaimana perbedaan bisa membawa dampak positif, terutama dalam dunia kerja. Menurutnya, keberagaman perspektif justru mendorong kreativitas, melahirkan ide baru, serta membuat sebuah organisasi lebih adaptif dan komprehensif dalam memecahkan masalah. Kuncinya adalah kemauan untuk membuka diri dan menghargai pandangan orang lain.

Terkait cara menyampaikan pendapat, H. Desi menekankan pentingnya bahasa yang santun dan argumentasi yang jelas. “Tegas boleh, kasar tidak boleh,” ujarnya, mengingatkan bahwa dialog bukan tentang memenangkan perdebatan, tetapi tentang menemukan titik terbaik untuk kemaslahatan bersama.

Ketika perbedaan mulai memanas, beliau menyarankan agar semua pihak menenangkan suasana, menghentikan perdebatan yang tidak produktif, dan kembali pada musyawarah serta aturan bersama. Ia juga menjelaskan bahwa tidak semua perbedaan harus ditoleransi; perbedaan teknis dapat diterima, tetapi perbedaan yang menyangkut prinsip dasar agama dan moral harus diarahkan dengan bijak serta tegas.

Menutup sesi podcast, H. Muhammad Desi Asiska menyampaikan pesan agar setiap insan, terutama ASN, mengedepankan akhlak sebagai fondasi dalam bermusyawarah. “Persaudaraan jauh lebih mahal daripada memenangkan debat,” tutupnya, menegaskan bahwa adab selalu lebih tinggi nilainya daripada sekadar ilmu.

Podcast ditutup oleh Ali Anshori dengan harapan agar episode ini menjadi pengingat bahwa perbedaan bukanlah alasan untuk berjarak, melainkan kesempatan untuk memperkaya perspektif. “Berbeda itu biasa, tetapi beradab itu luar biasa,” ujarnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *