Staf KUA Nanga Pinoh Manfaatkan Lahan Sempit Untuk Tanam Cabai

Melawi (Kemenag Kalbar) “Menanam cabai sama dengan menanam masa depan.”Kalimat itu bukan sekadar ungkapan bagi Tarhibatul Abror, staf administrasi yang juga gemar bercocok tanam. Di sela kesibukannya bekerja di KUA Nanga Pinoh, ia memanfaatkan lahan kosong di belakang kantor untuk hal yang bermanfaat menanam cabai dalam polybag.

Bagi sebagian orang, lahan sempit mungkin dianggap tidak berguna. Tapi bagi Tarhibatul Abror, justru di situlah peluang itu tumbuh. Dengan kesabaran dan ketekunan, ia menanam sekitar 150 batang cabai. Jika tumbuh subur dan berbuah lebat, hasilnya bisa mencapai ratusan kilogram cabai.

Bukan tanpa pengalaman. Di lahan sekitar tempat tinggalnya, ia sudah menanam sekitar 300 pohon cabai dan berhasil memanen lebih dari satu ton. Dalam satu kali panen saja, ia pernah mendapatkan 50 kilogram cabai, dengan harga jual tertinggi mencapai Rp70.000 per kilogram. Hasil yang tentu sangat menggembirakan, apalagi di tengah naik-turunnya harga cabai di pasaran.

Menariknya, meski ditanam di polybag, tanaman cabai ternyata bisa berumur panjang jika dirawat dengan baik. “Cabai di rumah saya sudah berusia satu tahun. Sudah masuk fase ketiga. Kalau dipupuk lagi, masih bisa berbuah lagi,” ujarnya sambil tersenyum.

Dari pengalamannya itu, Tarhibatul Abror ingin mengajak masyarakat agar ikut menanam. Tidak perlu banyak, cukup sepuluh batang saja di pekarangan rumah. Dengan begitu, ketika harga cabai melonjak, tidak perlu panik atau tergantung pada pasar.

“Mulailah dari yang kecil, manfaatkan ruang yang ada. Karena dari satu pohon cabai, bisa tumbuh semangat kemandirian, dan dari kebiasaan menanam, bisa lahir masa depan yang lebih hijau dan sejahtera.” (ali)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *