Melawi (Kemenag Kalbar) – Menyikapi dinamika kebijakan kuota haji tahun 2026 yang tengah disesuaikan secara nasional, Kementerian Agama Kabupaten Melawi melalui Seksi Haji dan Bimbingan Masyarakat Islam mengingatkan para jamaah haji untuk memandang setiap perubahan dengan hati yang lapang dan penuh keimanan.
Dalam pesan yang dikirimkan melalui grup resmi jamaah haji Melawi, Kasi Haji dan Bimas Islam Kemenag Melawi, Muhamad Desi Asiska, menjelaskan bahwa kebijakan kuota dan sistem keberangkatan yang sedang diperbaiki pemerintah merupakan bagian dari ikhtiar administratif dan manajerial. Namun, di balik semua itu, ia menegaskan bahwa hukum tertinggi tetap berada di tangan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
“Sistem hanyalah alat, sementara izin Allah adalah penentu. Nama siapa pun yang berangkat ke Baitullah tidak ditulis oleh komputer, melainkan oleh pena takdir Allah di Lauhul Mahfuz,” tulisnya.
Desi Asiska menekankan bahwa menjadi calon jamaah haji bukanlah hasil dari usaha manusia semata, melainkan undangan langsung dari Allah. Dari jutaan umat Islam di negeri ini, hanya sebagian kecil yang mendapatkan kehormatan tersebut.
“Siapa pun yang sudah memiliki nomor porsi haji sejatinya telah menerima surat undangan dari Allah. Undangan itu tidak akan pernah batal — hanya waktu kehadirannya yang sedang diatur oleh Sang Tuan Rumah,” lanjutnya.
Ia mengajak para jamaah untuk menyikapi perubahan kebijakan dengan adab dan iman yang kuat. Menurutnya, penundaan keberangkatan bukanlah penolakan, melainkan tanda kasih Allah yang tengah menyiapkan waktu terbaik bagi hamba-Nya.
Sebagaimana firman Allah dalam QS. At-Taghabun ayat 11:
“Tidak ada sesuatu pun yang terjadi di langit dan di bumi tanpa izin Allah.”
Dalam pesannya, Desi Asiska mengingatkan agar calon jamaah menjaga kesopanan hati di hadapan takdir, membersihkan niat dan keikhlasan ibadah, bersabar dalam menunggu panggilan, serta terus bersyukur karena telah dipilih menjadi calon tamu Allah. Ia juga mengajak jamaah untuk mulai mengamalkan ayat-ayat tentang haji sejak dini agar kesiapan ruhani terbentuk lebih dahulu sebelum keberangkatan fisik ke Tanah Suci.
Beberapa ayat yang ia sampaikan di antaranya:
“Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki dan mengendarai unta yang kurus, mereka datang dari segenap penjuru yang jauh.” (QS. Al-Hajj: 27)
“Dan sempurnakanlah ibadah haji dan umrah karena Allah.” (QS. Al-Baqarah: 196)
“(Musim) haji itu (berlangsung pada) bulan-bulan yang telah dimaklumi; barang siapa yang menetapkan niat dalam bulan itu untuk mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, berbuat fasik, dan berbantah-bantahan dalam masa mengerjakan haji. Dan apa pun kebaikan yang kamu kerjakan, niscaya Allah mengetahuinya.” (QS. Al-Baqarah: 197)
Menurutnya, ayat-ayat tersebut tidak hanya dibaca menjelang keberangkatan, tetapi perlu diamalkan sejak sekarang. “Menjaga lisan, menenangkan hati, memperbanyak zikir, dan memperhalus niat — itulah bagian dari manasik batin,” tulisnya.
Desi Asiska juga menegaskan bahwa iman kepada takdir bukan berarti berhenti berusaha. Jamaah tetap perlu mempersiapkan diri dengan memperkuat fisik, memperdalam manasik, dan menyucikan hati.
Ia turut mengutip firman Allah dalam Surah Al-Hadid ayat 22–23
“Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa di bumi dan pada dirimu sendiri, kecuali telah tertulis dalam kitab sebelum Kami mewujudkannya. Agar kamu tidak berduka atas apa yang luput darimu, dan tidak terlalu gembira atas apa yang diberikan kepadamu.”
Serta sabda Rasulullah ﷺ:
“Apa pun yang ditakdirkan untukmu, tidak akan meleset darimu. Dan apa pun yang tidak ditakdirkan untukmu, tidak akan pernah engkau dapatkan.” (HR. Ahmad)
Pesan tersebut ditutup dengan kalimat reflektif yang menenangkan hati para jamaah:
“Katakan dengan yakin: aku bukan ditunda, tapi sedang disiapkan. Bukan tahun ini aku ke Baitullah, karena tahun ini Allah sedang membaitkan hatiku untuk-Nya.”
Kasi Haji dan Bimas Islam berharap, melalui pesan ini para jamaah semakin memahami bahwa penyesuaian sistem hanyalah bagian kecil dari skenario besar Allah.
“Kuota bisa berubah, sistem bisa bergeser, tapi panggilan Allah tidak pernah salah alamat. Ketika engkau menunggu dengan sabar, sejatinya engkau sedang duduk di depan pintu Allah — menanti Dia mempersilakanmu masuk ke rumah-Nya,” pungkasnya.
