Guru MAN Melawi Tembus Antologi Sastra Internasional, Harumkan Literasi Daerah di Kancah ASEAN

Melawi (Kemenag Melawi) — Dunia literasi Kabupaten Melawi kembali menorehkan kebanggaan. Salah satu tenaga pendidik dari Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Melawi berhasil menembus ajang penulisan kreatif tingkat internasional yang melibatkan partisipan dari berbagai negara Asia Tenggara.

Prestasi tersebut diraih Fihriani, guru MAN Melawi, yang pada Januari 2026 resmi diumumkan sebagai penulis terpilih dalam sebuah buku antologi sastra serumpun. Proyek kolaborasi ini bertujuan mempererat hubungan budaya antarnegara melalui tradisi pantun Melayu yang telah diakui sebagai warisan budaya oleh UNESCO.

Keberhasilan ini melalui proses seleksi ketat oleh dewan kurator profesional. Setiap karya yang masuk harus memenuhi standar estetika pantun Melayu klasik sekaligus mampu merefleksikan dinamika modernitas masyarakat ASEAN. Dari ribuan naskah yang dikirimkan, karya Fihriani dinilai mampu memadukan nilai tradisi, pesan kemanusiaan, dan relevansi kekinian.

Kepala MAN Melawi menyampaikan apresiasi tinggi atas capaian tersebut. Menurutnya, prestasi ini tidak hanya membanggakan madrasah, tetapi juga mengangkat nama dunia pendidikan di Kalimantan Barat pada level regional.

Selain aktif sebagai penulis, Fihriani—yang akrab disapa Fithri—dikenal sebagai Wakil Kepala Madrasah Bidang Kesiswaan dan pengampu mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam. Rekam jejak literasinya pun cukup panjang, dengan sejumlah penghargaan kepenulisan hingga ke negeri jiran Malaysia serta telah menerbitkan beberapa buku, baik fiksi maupun nonfiksi.

Dedikasi tersebut turut berdampak pada pembinaan siswa. Sebelumnya, puluhan pelajar MAN Melawi berhasil meraih prestasi dalam ajang puisi etnik tingkat internasional, menunjukkan bahwa budaya literasi di madrasah tumbuh secara berkelanjutan.

Antologi sastra ini dijadwalkan diluncurkan dalam sebuah festival budaya yang akan mempertemukan sastrawan dari Indonesia, Singapura, dan Brunei Darussalam. Kegiatan tersebut diproyeksikan menjadi ruang pertukaran gagasan sekaligus penguatan pelestarian nilai-nilai luhur pantun sebagai identitas budaya serumpun.

Proses penyusunan antologi berlangsung selama beberapa bulan, mulai dari pengiriman naskah hingga kurasi final yang berakhir pada pertengahan Januari 2026. Tingginya antusiasme peserta menunjukkan bahwa tradisi sastra lisan masih memiliki tempat penting di tengah perkembangan zaman.

Kehadiran guru dari daerah dalam daftar penulis terpilih menjadi bukti bahwa kualitas literasi tidak ditentukan oleh letak geografis. Semangat berkarya dari Melawi mampu bersaing dengan penulis dari kota-kota besar di kawasan Asia Tenggara.

Pihak madrasah berencana menggelar acara syukuran dan bedah karya sebagai bentuk apresiasi sekaligus motivasi bagi guru dan siswa untuk terus produktif menulis. Langkah ini diharapkan dapat memperluas gerakan literasi di lingkungan pendidikan serta melahirkan lebih banyak karya yang mengangkat kearifan lokal.

Keterlibatan dalam antologi ini bukan sekadar prestasi, tetapi juga menjadi sarana diplomasi budaya. Pantun-pantun yang dihadirkan membawa pesan perdamaian, persaudaraan, dan nilai kebijaksanaan lokal yang memperkuat identitas bangsa di tengah pergaulan global.

Dengan terbitnya buku tersebut pada awal 2026, koleksi literasi madrasah diharapkan semakin kaya dan dapat menjadi referensi pembelajaran bagi siswa dalam mendalami sastra tradisional, sekaligus memotivasi lahirnya generasi penggiat literasi dari Melawi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *